Sabtu, 21 Juni 2009
Kemarin siang, ditengah terik siang kota Makassar, diseputaran sentral, dalam perjalanan pulang sehabis shalat Ju'mat ( jalan kaki pastinya, karena nggak punya kendaraan ! ). Shalat Ju'mat nya di sebuah Mushallah yang terletak di lantai II sebuah show room mobil. Jamaahnya tentu banyakan orang kantoran. Ciri ciri obyektifnya jelas ( Pakaian rada rapi, penampilan fisik bersih klimis dsb dech ). Nggak usah dong diceritain detail shalat Jum'atnya, maklum ini kan bukan laporan pandangan mata. Ok ?
Baru jalan sekitar 10 meteran dari kompleks tempat shalat Jum'at tadi, seperti biasa kerumunan orang yang mencoba ( atau memang sudah profesi ) menghampiri saya dan juga jamaah yang lain. Maksud dan tujuan mereka lain lain, tapi mayoritasnya, yach... biasa, meminta sesuatu dari para jamaah.
Salah satunya, seorang ibu paruh baya yang menggandeng seorang anak perempuan ( entah anak kandung, anak pinjaman buat memperkuat citra dan menambah rasa iba orang lain ). Dia juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Satu, dua, tiga.... pokoknya beberapa jamaah telah lewat yang dihampirinya. Tapi, anehnya, tak satupun jamaah tersebut yang memberi respon yang mungkin diharapkan. Sampai akhirnya, tiba giliran saya.
Si ibu menghampiri saya, dan langsung menyampaikan maksud.
Si ibu meminta sejumlah uang, yang katanya buat bayar angkot untuk pulang kerumahnya dibagian lain sudut kota ini. Saya tidak menganggap si ibu mengemis ( soalnya, si ibu meminta baik baik dan tujuannya jelas ). Kayak sudah dikonsep dan baku mirip proposal.
Mungkin memang rezeki si ibu hari itu, diatur salah satunya lewat saya. Singkatnya, saya kebetulan ada uang kecil seribuan enam lembar ( yang saking kusutnya, sampai sampai angka 1 dari tulisan 1000 dari salah satu uang tersebut sudah nggak bisa terlihat . Jadinya uang itu saya bagi dua, buat si ibu tiga lembar, sisanya buat ongkos saya sendiri. Dengan sigap si ibu langsung bersiap pamit setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.
Dan sayapun menyetop angkot pertama yang lewat didepan saya, tentunya yang jurusannya yang menuju kearah tempat kost saya.
Dalam perjalanan, diatas angkot, kejadian barusan malah mengulik otak saya, dengan berbagai analisa ( sok ! ).
Masalah pertama, ternyata masih ada , bahkan banyak dan teramat banyak orang lain di sekitar kita yang entah karena kebetulan atau memang selalu, membutuhkan bantuan kita, meskipun sepele.
Kedua, gairah keberagamaan kita dominan kita arahkan dan habiskan untuk mengabdi dan menghamba kepada Tuhan, tapi tak pernah mencoba untuk menjadi perwakilan Tuhan yang menyebarkan kebahagiaan pada orang lain.
( Maaf jika tulisan ini masih kacau, maklum penulisnya seorang " Fikri Yathir"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar